Himpunan Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (HMP-IAT) STAI Asy-Syukriyyah,  melaksanakan sebuah Seminar Nasional, Minggu (14/08/22) dengan mengusung Tema,  “Membumikan Islam Moderat di Indonesia”. Dalam acara tersebut Moderator SUPRIADI. M.Ag yang juga salah satu Dosen STAI Asy-Syukriyyyah. Selanjutnya diisi sambutan oleh Ketua STAI Asy-Syukriyyah Jamaluddin Nibbun. Lc M.A, beliau sangat mengapresiasi atas terselenggaranya Seminar Nasional pembahasan Islam Moderat yang disuguhkan langsung oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A, (Imam Besar Istiqlal) dan salah satu Pembina FKMTHI (Forum Komunikasi Mahasiswa Tafsir Hadist Indonesia). Selain itu ia juga selaku pakar dalam bidang tersebut khususnya dalam konteks keiindonesiaan sesuai dengan Al-Qur`an dan Hadist.

Pada acara seminar tersebut, Pengurus Pusat Forum Komunikasi Mahasiswa Tafsir dan Hadits (FKMTHI) Anas Munaji S.Ag serta jajaranya turut hadir membersamai mahasiswa HMP-IAT Asy-Syukriyyah dan Himpunan Mahasiswa Tafsir luar daerah yang juga turut hadir dalam kegiatan Seminar Nasional tersebut.

Mahasiswa Tafsir Hadist harus selalu terdepan dalam menerapkan moderasi beragama, menyuarakan kecanggihan Al-Qur’an dalam menghadapi tantangan zaman. Prof. Dr. Nasaruddin Umar M.A, dalam seminarnya menyampaikan, “Bahwa kita tidak bisa membumikan Al-Qur’an itu sendiri, jika manusia nya tidak turut dilangitkan”. Bukankah Al-Qur’an utamanya adalah menjadi peta untuk manusia melangit ? Sebagaimana firman Allah yang artinya : “Sungguh, akan kamu jalani tingkat demi tingkat (dalam kehidupan).

Menurutnya negeri yang mayoritas umat Islam, seharusnya terunggul dalam menyuarakan kedamaian dan ketentraman bagi seluruh penduduk lainnya, memberikan ketenangan bagi penganut agama lainnya. Jangan sampai satu diantaranya saling menyalahkan satu sama lain yang menimbulkan keharmonisan antar manusia itu sendiri ujarnya.

Membumikan Al-Qur’an ialah mengartikulasi sesuai dengan konteksnya. Semakin canggih zaman, maka semakin canggih pula Al-Qur’annya. Sejatinya Al-Qur’an tidak perlu lagi dimodernkan, sebab Al-Qur’an sudah dipilih sebagai kitab terbaik akhir zaman yang akan menembus zamannya. Maka dari itu yang dimoderasi bukanlah Islam itu sendiri melainkan cara berfikir dan cara beragamanya Mindset Religious. Jangan sampai hanya bermodal baca terjemahan Al-Qur’an sehingga gampang menyalahkan, apalagi yang disalahkan itu adalah ulama.

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A mengatakan, “Orang yang gampang menyalahkan orang lain menandakan dirinya harus banyak belajar”. Al-Qur’an tidak memiliki sistem berekonomi, berbisnis dan lain sebagainya namun, Al-Qur’an memiliki etika dan prinsip dalam berekonomi, berbisnis. Prinsip dan etika itu yang harus mengikat kita sampai akhirat.
Lebih jauh Prof Dr. Nasaruddin Umar M.A menuturkan, “Jika kita memegang agama ini (Islam) maka, akan ada suluh yang kita bawa kemanapun dan kapanpun, Al-Qur’an menuntut masyarakat memiliki mindset keislaman yang baik.

Seminar yang diikuti lebih dari 150-an mahasiswa ini, diakhiri tepat dikumandangkannya adzan ashar.

Semoga kita senantiasa menjaga nilai-nilai serta prinsip keislaman dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan keberkahan, kedamaian dalam negeri kita Indonesia, serta berharap negeri ini tergolong negeri yang dirindukan oleh Nabi Muhammad Shallahu Alaihi Wasallam, pungkasnya.